Menghadapi Kelaparan Terparah

Menghadapi Kelaparan terparah

AkhirZaman.org: PBB berkata Somalia menghadapi kelaparan terparah dan kekeringan yang melanda negara itu saat ini adalah yang terburuk dalam 40 tahun terakhir memilukan hati telah menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi.

Mengungsi dari rumah

Sharifo Hassan Ali, ibu berusia 40 tahun dengan tujuh anak adalah salah satu dari mereka yang mengungsi dari rumah


Dia terpaksa meninggalkan desanya dan mengungsi dari rumah mereka dan menempuh perjalanan lebih dari 200 km sebagian besar dengan berjalan kaki dari kawasan Lower Shabell ke pengungsian sementara di pinggir ibu kota Mogadishu.

Perjalanan itu ditempuhnya dalam waktu lima hari.

Dalam perjalanan itu kami hanya makan sekali sehari. Ketika tak ada cukup makanan, kami hanya memberi makan anak-anak dan kami kelaparan, katanya.

Meminum Air Lumpur dan Memakan Bangkai

Dalam perjalanan ke ibu kota, dia menyaksikan beberapa adegan yang mengejutkan.


Sungai mengering sepenuhnya. Hanya ada sedikit air yang mengalir, jadi kami terpaksa minum air berlumpur, tutur hassan Ali.

Saya menyaksikan ratusan binatang yang mati dalam perjalanan ke Mogadishu. Orang-orang bahkan memakan bangkai dan kulit binatang.

Dulu Hassan Ali memiliki 25 sapi dan 25 kambing. Tapi hewan-hewan itu mati karena kekeringan.

Tak ada hujan dan tak ada yang tumbuh di peternakan saya, ujarnya.

Dia kini hanya mendapat sekitar Rp30.000 setiap harinya dari upah mencuci baju milik orang lain – namun uang sebesar itu tak cukup untuk membeli makanan.

Saya tak bisa membeli satu kilogram nasi dan sayur dengan uang itu, dan itu tak pernah cukup untuk semua orang. Kekeringan ini sangat kejam bagi kami.

Dia mendapat bantuan dari badan amal, namun dia juga mengungkapkan bahwa itu tak cukup.
Kami tidak punya apa-apa, kata Hassan Ali.

Bergantung Pada Kulit Dan Tulang Hewan Yang Dibuang

Sejak dua tahun terakhir, Lindinalva Maria da Silva Nascimento, nenek berusia 63 tahun dari Sao Paulo, Brasil, telah mengonsumsi tulang dan kulit hewan yang dibuang oleh pedagang daging lokal.

Pensiunan ini hanya punya sekitar Rp60.000 tiap hari untuk membeli makanan bagi dirinya, suaminya, seorang putra dan dua cucu.

Tak mampu membeli daging

Untuk mendapatkan itupun dia harus merogoh koceknya sekitar Rp10.000 per kilogram.

Saya memasak tulang dengan sedikit daging yang masih tertinggal di kulit. Saya menambahkan kacang-kacangan untuk menambah rasa.

Dia tak mampu membeli daging, maka dia mendatangi pedagang daging dan membeli tulang belulang dan kulit ayam.

Kulit ayam tersebut, katanya, digoreng tanpa minyak dan lemak yang terkumpul disimpan.

Lindinalva menyimpannya di toples mayones kosong dan memakainya untuk menggoreng makanan di kemudian hari.

kehilangan mata pencaharian

Saya bahkan tak bisa membeli buah, sayur dan manisan. Sebelumnya, saya punya lemari pendingin yang penuh dengan daging dan sayuran, serta kulkas yang terisi kubis, tomat, bawang, ada banyak sekali, tuturnya.

Hari ini, [kulkas] itu kosong dan satu-satunya yang saya punya adalah satu bawang di mangkuk buah.
Lindinalva kehilangan mata pencaharian karena pandemi dan putranya juga menganggur.

Saya bergantung pada donasi makanan dari orang-orang yang saya kenal dan bantuan dari Gereja Katolik setempat. Itulah bagaimana saya bertahan hidup, jelasnya.

Menderita kerawanan pangan

Lebih dari 33 juta orang di Brazil hidup dalam kelaparan, menurut laporan terbaru yang disusun oleh Brazilian Network for Food Security.

Penelitian terbaru yang dirilis Juni silam itu juga menemukan lebih dari setengah populasi Brasil menderita kerawanan pangan.

Pedagang daging sering berkata mereka tak punya tulang, keluh Lindinalva.

Dia menambahkan bahwa dia harus menekan porsi makannya demi mengamankan persediaan makanan.

Saya bertahan juga karena keyakinan saya bahwa semuanya akan membaik pada suatu titik.

Bertahan Dengan Buah Kaktus Merah

Tak ada hujan dan tak ada panen. kami tak punya apa-apa untuk dijual. Kami tak punya uang. Saya tak mampu memakan nasi.

Fefiniaina adalah ibu muda berusia 25 tahun dengan dua anak yang tinggal di Madagaskar, pulau yang terletak di Samudra Hindia.

Curah hujan yang rendah selama dua tahun terakhir telah menghancurkan persawahan dan memusnahkan ternak.

Ini juga membuat lebih dari satu juta orang menuju kelaparan, menurut PBB.

Fefiniaina tinggak di kota Amboassary, salah satu yang paling terdampak kekeringan di Madagaskar. Dia dan suaminya hidup dengan menjual air.

Saat saya mendapat uang, saya membeli beras atau singkong. Ketika saya tak punya apa-apa saya terpaksa makan buah kaktus merah dan tidur dengan rasa lapar, ujarnya kepada BBC melalui penerjemah UNICEF.

Kebanyakan orang-orang di sini makan buah kaktus. Rasanya sedikit seperti asam.

Kami telah memakannya sejak empat bulan terakhir dan kini kedua anak saya menderita diare.

krisis kelaparan seismik

Badan Pangan PBB melaporkan tahun lalu di Madagaskar bagian selatan, Orang-orang makan daun kaktus, akar liar, hanya untuk menenangkan rasa lapar mereka.

Buah itu mungkin membantu keluarga Fefiniaina bertahan hidup, tapi buah itu tidak mengandung vitamin dan mineral yang mereka butuhkan.

Anaknya yang berusia empat tahun adalah salah satu di antara anak-anak yang mendapat perawatan karena malnutrisi.

“Bahkan jika kita memiliki sedikit hujan, kita bisa mendapatkan panen. Kita bisa makan ubi, singkong, dan buah-buahan,” kata Fefiniaina.

uang tidak dapat mengakhiri krisis

“Dan kita tidak perlu makan buah kaktus.” Badan Pangan Dunia (WFP) berkata bahwa kelaparan yang melanda dunia saat ini lebih buruk dari sebelumnya.

Badan itu menyebut penyebab “krisis kelaparan seismik” yang terjadi saat ini karena empat faktor: konflik, guncangan iklim, konsekuensi ekonomi dari pandemi Covid-19 dan kenaikan biaya.

“Biaya operasional bulanan WFP adalah US$73,6 juta (Rp1,1 triliun) di atas rata-rata 2019 – melonjak drastis sebesar 44 persen,” kata laporan tahun 2022.

“Biaya tambahan yang sekarang dihabiskan untuk biaya operasi sebelumnya akan memberi makan empat juta orang selama satu bulan.”

Tetapi organisasi itu mengatakan bahwa uang saja tidak akan mengakhiri krisis: kecuali ada kemauan politik untuk mengakhiri konflik;

Dan komitmen untuk menahan pemanasan global, “pendorong utama kelaparan akan terus berlanjut,” laporan itu menyimpulkan.

Sumber: https://bbc.in/3SI1A7T

Kematian Siap Mengintip

Kelaparan mengakibatkan penderitaan yang luar biasa dan tak jarang, menjadikan tujuan utamanya adalah bertahan hidup, apa pun akan dilakukan. Kematian siap mengintip setiap saat bagi penderita kelaparan.

Gambaran kelaparan yang nyata akan merata di hampir seluruh dunia atau bisa jadi di semua sudut dunia.

Kelaparan fisik sudah pasti akan terjadi dengan begitu banyaknya berita mengenai bidang ekonomi dunia yang mengalami krisis.

Ini adalah gambaran nyata sebagaimana yang Alkitab nyatakan: “Di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan.” Lukas 21:11.

Lapar dan Haus secara Rohani

Apakah yang Alkitab nyatakan sehubungan dengan hal ini?

Lalu bagaimana dengan lapar dan haus secara rohani?

“Tidak mempedulikan agama.” II Timotius 3:2.

“Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.” II Timotius 3:5.

Masa kesukaran akan terjadi di depan kita, ekonomi tidak stabil, penyakit dan bahkan kemerosotan moral pun akan semakin memperparah kondisi dunia ini.

Apa yang menjadi kekuatan dan pengharapan kita? Hanya Tuhan saja, lalu bagaimana kita mengetahui dan mendapatkan kekuatanNya?

Hanya melalui firman-Nya. Dengan menyembah hanya padaNya dengan cara yang benar maka kekuatan akan diberikanNya kepada kita.

Agama menjadi standar utama bagi umat manusia untuk dapat mengenal Tuhan yang adalah Sang Pencipta langit, bumi dengan segala isinya.

kekacauan dan kebrutalan

Lalu bagaimana jika agama Kristus tidak dihiraukan? Kekacauan.

Apa fungsi tulisan atau firman Tuhan? “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” II Timotius 3:16.

Tanpa firman Tuhan maka kekacauan dan kebrutalan terjadi di dunia ini, bukan hanya sekedar kematian karena kelaparan tetapi juga kematian kekal karena tidak mengenal jalan Tuhan.

Mari sembah Dia [Tuhan Yesus] dengan cara yang benar, sebagaimana yang terulis di dalam firman-Nya.

Bisa jadi Anda saat ini masuk dalam kelompok yang mengalami efek dari krisis, yaitu kelaparan. Bisa jadi nyawa Anda menjadi terancam dan bahkan kematian.

Sekalipun tidak bisa menyelamatkan kondisi kelaparan, tetapi setidaknya kita bisa menyelamatkan rohani kita supaya saat kebangkitan, kita masuk dalam kelompok kebangkitan yang pertama untuk memperoleh hidup kekal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *