KEBANGUNAN ROHANI MODERN (1)

lamp-in-the-dark Copy

[AkhirZaman.org] Di mana saja firman Allah diberitakan dengan setia, hasilnya selalu terlihat yang membuktikan bahwa itu berasal dari Allah. Roh Allah menyertai pekabaran hamba-hambanya, dan kata-kata mereka memiliki kuasa. Orang-orang berdosa merasa hati nurani mereka digerakkan. “Terang yang menerangi setiap orang datang kepada dunia,” menyinari relung-relung jiwa mereka yang paling tersembunyi, sehingga perkara-perkara yang tersembunyi di dalam kegelapan telah dibuat menjadi nyata. Keyakinan yang mendalam menguasai pikiran dan hati mereka. Mereka diyakinkan mengenai dosa dan mengenai kebenaran, dan mengenai penghakiman yang akan datang. Mereka mempunyai kepekaan terhadap kebenaran Yehowa dan perasaan gentar untuk tampil dihadirat Penyelidik hati dalam keadaan bersalah dan najis. Dalam penderitaan mereka berseru, “Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Rom. 7:24). Sementara salib di Golgota, dengan korbannya yang sangat besar itu bagi dosa-dosa manusia, dinyatakan, mereka melihat bahwa tidak ada yang lain selain jasa Kristus yang dapat mengadakan pendamaian bagi pelanggaran-pelanggaran mereka. Hanya dengan ini saja manusia dapat diperdamaikan kembali kepada Allah. Dengan iman dan kerendahan mereka menerima Anak Domba Allah yang mengangkut dosa isi dunia ini. Melalui darah Yesus Ia telah “membiarkan dosa-dosa yang terjadi dahulu.” (Rom 3:25).

Jiwa-jiwa ini menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Mereka percaya dan dibaptiskan, dan bangkit dalam pembaharuan hidup, menjadi kejadian yang baru di dalam Yesus Kristus; tidak merupakan dirinya menurut hawa nafsu sebelumnya, tetapi oleh iman kepada Anak Allah akan mengikuti-Nya dalam setiap langkah-langkah-Nya, merefleksikan tabiat-Nya dan menyucikan diri mereka sebagaimana Kristus suci adanya. Perkara-perkara yang pada suatu ketika dibenci, sekarang mereka sukai; dan perkara-perkara yang pada suatu ketika disukai, mereka benci. Sifat sombong dan suka menonjolkan diri, menjadi lemah lembut dan rendah hati. Kesia-siaan dan keangkuhan menjadi sungguh-sungguh dan tidak suka menonjolkan diri. Kenajisan menjadi rohani, peminum dan pemabuk dan orang yang tidak bermoral menjadi suci. Gaya hidup yang penuh kesia-siaan dunia ini dikesampingkan. Orang-orang Kristen tidak berusaha menghiasi dirinya dengan “secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-epang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi . . . manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa, yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” (1 Pet. 3:3,4).

Kebangunan rohani membawa penyelidikan hati yang mendalam dan kerendahan hati. Hal itu ditandai oleh himbauan yang sungguh-sungguh dan khidmat kepada orang-orang berdosa, oleh kerinduan yang kuat kepada belas kasihan penebusan darah Kristus. Pria dan wanita berdoa dan bergumul dengan Allah bagi keselamatan jiwa-jiwa. Buah-buah kebangunan rohani seperti itu nampak pada jiwa-jiwa yang tidak akan ciut dengan penyangkalan diri dan pengorbanan, tetapi bersukacita karena mereka dianggap layak menderita celaan dan cobaan demi Kristus. Manusia melihat suatu perubahan dalam hidup mereka yang mengaku nama Yesus. Masyarakat diuntungkan oleh pengaruh mereka. Mereka berkumpul dengan Kristus dan menabur kepada Roh, menuai kehidupan yang kekal.

Mengenai mereka boleh dikatakan, “Dukacitamu membuat kamu bertobat,” “Sebab dukacitamu menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia menghasilkan kematian. Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah itu mengerjakan pada kamu kesungguhan yang besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kegiatan, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah membuktikan, bahwa kamu tidak bersalah dalam perkara itu.” (2 Kor. 7:9-11).

Inilah hasil pekerjaan Roh Allah. Tidak ada bukti pertobatan sejati kecuali pertobatan itu mengerjakan pembaharuan dalam diri orang itu. Jikalau seorang berdosa memperbaharui janjinya, mengembalikan apa yang sudah dirampoknya, mengakui dosa-dosanya, dan mengasihi Allah dan sesamanya manusia, maka orang berdosa itu boleh merasa yakin bahwa ia telah menemukan perdamaian dengan Allah. Begitulah pengaruh yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya sesudah kebangunan keagamaan. Dari buah-buah yang dihasilkan, dapatlah diketahui bahwa mereka diberkati Allah dalam penyelamatan manusia dan meninggikan kemanusiaan.

Akan tetapi banyak kebangunan rohani pada zaman modern ini telah menunjukkan suatu perbedaan yang mencolok dengan manifestasi rahmat Allah yang pada masa-masa sebelumnya mengikuti pekerjaan hamba-hamba Allah. Benar bahwa perhatian yang luas dibangkitkan, dan banyak mengaku bertobat, dan banyak orang bergabung ke dalam gereja-gereja. Namun, hasil-hasilnya tidak menjamin bahwa terdapat peningkatan dalam kehidupan kerohanian yang sesungguhnya. Terang yang bersinar untuk sesaat lamanya segera padam, meninggalkan kegelapan yang lebih pekat dari sebelumnya.

Kebangunan-kebangunan rohani populer sering dihasilkan oleh penarikan kepada imaginasi, oleh membangkitkan emosi, oleh memuaskan keinginan terhadap sesuatu yang baru dan mengagumkan. Dengan demikian orang-orang yang bertobat dengan cara seperti itu tidak begitu tertarik untuk mendengarkan kebenaran Alkitab, tidak begitu tertarik kepada kesaksian para nabi dan para rasul. Kecuali upacara keagamaan mempunyai sesuatu yang bersifat sensasi, maka hal itu tidak menarik bagi mereka. Suatu pekabaran yang tidak menarik kepada logika tidak akan mendapat respons atau sambutan. Amaran sederhana yang jelas dari firman Allah, yang berhubungan langsung dengan kepentingan hidup kekal mereka, tidak dihiraukan.

Bagi setiap jiwa yang benar-benar bertobat, hubungan dengan Allah dan dengan perkara-perkara kekal adalah merupakan pokok utama dalam kehidupan. Tetapi dalam gereja-gereja populer sekarang ini, dimanakah roh penyerahan kepada Allah? Yang bertobat itu tidak meninggalkan kesombongan dan kasih kepada dunia ini. Mereka tidak mau lebih menyangkali diri sendiri, memikul salib lalu mengikut Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, daripada sebelum mereka bertobat. Agama telah menjadi permainan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan orang-orang yang skeptis sebab banyak yang mengaku beragama tidak mau tahu mengenai prinsip-prinsipnya. Kuasa kesalehan telah hampir meninggalkan banyak gereja-gereja. Piknik, sandiwara gereja, pasar malam gereja, bazar, rumah-rumah mewah, pameran pribadi, telah menghilangkan pemikiran dari Allah. Tanah dan harta benda serta pekerjaan duniawi menyibukkan pikiran, dan perkara-perkara kekekalan sulit untuk mendapat perhatian.

Walaupun kemerosotan iman dan kesalehan merajalela, masih terdapat pengikut-pengikut Kristus yang benar di dalam gereja itu. Sebelum penghakiman terakhir Allah atas dunia ini, di antara umat Tuhan akan ada kebangunan rohani seperti yang belum pernah disaksikan sebelumnya, sejak zaman rasul-rasul. Roh dan kuasa Allah akan dicurahkan kepada anak-anak-Nya. Pada waktu itu banyak yang akan memisahkan diri mereka dari gereja-gereja dimana kasih kepada dunia ini telah menggantikan kasih kepada Allah dan kasih kepada firman-Nya. Baik pendeta-pendeta maupun orang awam pada waktu itu dengan gembira menerima kebenaran agung yang Allah suruh disiarkan kepada dunia ini, untuk menyediakan orang-orang kepada kedatangan Tuhan. Musuh jiwa-jiwa ingin menghalangi pekerjaan ini. Dan sebelum waktu untuk gerakan seperti itu datang, ia berusaha mencegahnya dengan memperkenalkan suatu penipuan. Dalam gereja-gereja yang bisa di bawah kuasa penipuannya, akan ditunjukkannya bahwa seolah-olah berkat-berkat khusus Allah dicurahkan; di sana akan dinyatakan apa yang dianggap sebagai kepentingan agama yang besar. Orang banyak akan bersukaria bahwa Allah bekerja dengan sangat mengagumkan bagi mereka, padahal pekerjaan itu adalah perbuatan roh yang lain. Dengan berkedok agama, Setan akan berusaha meluaskan pengaruhnya terhadap dunia Kristen.

Dalam banyak kebangunan rohani yang terjadi selama setengah abad terakhir ini, pengaruh yang seperti itu sedikit banyaknya telah bekerja, yang akan dinyatakan dalam gerakan yang lebih luas lagi pada masa yang akan datang. Ada suatu luapan emosi, suatu pembaruan antara yang benar dan yang salah, yang begitu baik dipadukan untuk menyesatkan. Namun tak seorangpun harus tertipu. Dalam terang firman Allah tidak sulit untuk menentukan sifat gerakan-gerakan ini. Di mana saja manusia melalaikan kesaksian Alkitab, dan berpaling dari kebenaran yang jelas dan sederhana serta yang menguji jiwa, yang memerlukan penyangkalan diri dan meninggalkan hal-hal duniawi, kita boleh merasa pasti bahwa berkat-berkat Allah tidak diberikan di sana. Dan dengan peraturan yang telah diberikan Kristus sendiri, “Dari buahnyalah kamu mengenal mereka” (Mat. 7:16), sudah jelas bahwa gerakan-gerakan itu bukan pekerjaan Roh Allah.

ayt alktb CopyDi dalam kebenaran firman-Nya, Allah telah memberikan kepada manusia penyataan diri-Nya; dan bagi mereka yang menerimanya, penyataan ini adalah perisai melawan penipuan Setan. Kelalaian akan kebenaran inilah yang telah membukakan pintu kepada sijahat yang sekarang menjadi begitu tersebar luas di dunia keagamaan. Sifat dan pentingnya hukum Allah sebegitu jauh telah diabaikan. Konsepsi yang salah mengenai tabiat, kekekalan dan tuntutan hukum ilahi, telah menuntun kepada kesalahan-kesalahan dalam hubungannya dengan pertobatan dan penyucian, dan telah mengakibatkan menurunnya ukuran kesalehan di dalam gereja. Di sinilah akan ditemukan rahasia kekurangan Roh dan kuasa Allah dalam kebangunan rohani pada zaman kita.

Di berbagai denominasi, ada orang-orang yang terkenal kesalehannya oleh siapa fakta ini diakui dan disesali. Profesor Edwards A. Park, dalam mengetengahkan bahaya-bahaya keagamaan dewasa ini berkata, “Salah satu sumber bahaya adalah mengabaikan mimbar sebagai tempat menguatkan dan menekankan hukum ilahi. Pada zaman-zaman sebelumnya mimbar itu adalah tempat menggemakan suara hati nurani . . . . Para pengkhotbah kita yang terkenal memberikan kebesaran dan kemuliaan kepada pidato-pidato mereka yang mengikuti teladan Guru, dan menonjolkan hukum Allah, peraturan-peraturan-Nya dan ancaman-ancaman-Nya. Mereka mengulang-ulangi dua pernyataan terkenal, bahwa hukum itu adalah salinan kesempurnaan ilahi, dan bahwa orang yang tidak mengasihi hukum itu tidak mengasihi Injil, karena hukum maupun Injil adalah cermin yang memantulkan tabiat Allah yang sebenarnya. Bahaya ini menuntun kepada bahaya berikutnya, yaitu meremehkan jahatnya, meluasnya dan celanya dosa itu. Sebanding dengan benarnya hukum itu demikianlah salahnya jika tidak menurutinya . . . .

“Berkaitan dengan bahaya-bahaya yang sudah disebutkan, adalah bahaya menganggap remeh keadilan Allah. Kecenderungan mimbar modern ini ialah memutarbalikkan keadilan ilahi dengan kebajikan dan kemurahan ilahi, menenggelamkan kebajikan dan kemurahan itu ke dalam perasaan gantinya meninggikannya menjadi prinsip. Prisma teologi yang baru menceraikan apa yang telah dipersatukan Allah. Apakah hukum Allah itu baik atau jahat? Hukum Allah itu baik. Berarti keadilan itu baik, karena keadilan adalah sifat mutlak pelaksanaan hukum. Dari kebiasaan meremehkan hukum dan keadilan ilahi, luas dan cacadnya pelanggaran manusia, manusia dengan mudah tergelincir kepada kebiasaan meremehkan rahmat yang telah menyediakan pendamaian bagi dosa.” Demikianlah Injil kehilangan nilai serta pentingnya di dalam pikiran manusia, dan tidak lama kemudian mereka siap menyingkirkan Alkitab seluruhnya.

Banyak guru-guru agama mengatakan bahwa Kristus oleh kematian-Nya telah menghapuskan hukum itu, dan oleh karena itu manusia dibebaskan dari tuntutan hukum itu. Sebagian menggambarkan hukum itu sebagai kuk yang kejam dan memberatkan serta menyusahkan. Dan bertentangan dengan perhambaan hukum itu, mereka menawarkan kebebasan yang akan dinikmati di bawah Injil.

Tetapi para nabi dan para rasul tidak menganggap hukum Allah yang suci itu demikian. Daud berkata, “Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu.” (Maz. 119:45). Rasul Yakobus, yang menulis sesudah Kristus mati, menganggap hukum itu sebagai “hukum utama” dan “hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang.” (Yakub 2:8; 1:25). Dan Pewahyu, setengah abad setelah penyaliban Kristus, mengumumkan suatu berkat atas mereka “yang melakukan perintah-perintah-Nya, sehingga mereka berhak menghampiri pohon kehidupan, dan masuk melalui pintu gerbang ke dalam kota itu.” (Wah. 22:14 — terjemahan langsung).

Pernyataan bahwa Kristus oleh kematian-Nya menghapuskan hukum Bapa-Nya, tidaklah beralasan. Seandainya hukum itu bisa diubah atau dikesampingkan, maka Kristus tidak perlu mati untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Kematian Kristus, yang sama sekali tidak menghapuskan hukum itu, membuktikan bahwa hukum itu tidak bisa diubah. Anak Allah datang untuk memberi pengajaran-Nya yang besar dan mulia.” (Yes. 42:21). Ia berkata, “Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat;” “selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat sebelum semuanya terjadi.” (Mat. 5:17,18). Dan mengenai diri-Nya sendiri Ia mengatakan, “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Tauratmu ada dalam dada-Ku.” (Maz. 40:9).

Hukum Allah, dari sifatnya sendiri, tidak dapat diubah. Hukum itu adalah penyataan kehendak dan tabiat Penciptanya. Allah adalah kasih, dan hukum-Nya adalah kasih. Prinsip agungnya ialah mengasihi Allah dan mengasihi manusia. “Kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” (Rom. 13:10). Tabiat Allah ialah kebenaran; demikianlah sifat hukum-Nya. Pemazmur berkata, “Taurat-Mu benar,” “segala perintah-Mu benar.” (Maz. 119:142,172). Dan Rasul Paulus menyatakan, “Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.” (Roma 7:12). Hukum seperti itu, yang menjadi penyataan pikiran dan kehendak Allah, sudah tentu sekekal Penciptanya.

Pertobatan dan penyucianlah yang mendamaikan manusia kepada Allah, oleh membawa manusia itu selaras dengan hukum-Nya. Pada mulanya manusia diciptakan menurut peta Allah. Ia sangat selaras dengan sifat dan hukum Allah. Prinsip-prinsip kebenaran dituliskan di dalam hati. Tetapi dosa memisahkan dia dari Penciptanya. Ia tidak lagi memancarkan peta ilahi. Hatinya berperang dengan prinsip-prinsip hukum Allah. “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah, hal ini memang tidak mungkin baginya.” (Roma 8:7). Tetapi “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,” agar manusia boleh diperdamaikan dengan Allah. Melalui jasa-jasa Kristus manusia itu bisa kembali selaras dengan Penciptanya. Hatinya harus diperbaharui oleh rahmat ilahi. Ia harus mempunyai hidup baru yang dari atas. Perubahan ini adalah kelahiran baru, tanpa itu kata Yesus “ia tidak bisa melihat kerajaan Allah.”

Langkah pertama dalam pendamaian kepada Allah ialah pengakuan dosa. “Dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” “Oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” (1 Yoh. 3:4; Roma 3:20). Agar dapat melihat dosanya, orang berdosa itu harus menguji tabiatnya dengan standar kebenaran Allah. Standar kebenaran itu adalah cermin yang menunjukkan penyempurnaan tabiat kebenaran, dan yang menyanggupkannya untuk melihat cacad pada dirinya.

Hukum itu menunjukkan kepada manusia dosa-dosanya, tetapi tidak menyediakan obatnya. Sementara hukum itu menjanjikan hidup kepada yang menurut, ia menyatakan kematian menjadi bagian pelanggar. Hanya Injil Kristus saja yang dapat membebaskannya dari hukuman dan pencemaran dosa. Ia harus menunjukkan penyesalan kepada Allah, yang hukum-Nya telah dilanggar; dan iman kepada Kristus, korban pendamaiannya. Dengan demikian ia memperoleh “pengampunan dosa-dosa yang terjadi dahulu,” dan menjadi ikut mengambil bagian dalam sifat ilahi. Ia adalah anak Allah yang telah menerima pengangkatan menjadi anak, dimana ia berkata, “Abba, ya Bapa!”

Apakah sekarang ia bebas melanggar hukum Allah? Rasul Paulus berkata, “Jika demikian, apakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya.” (Rom. 3:31). “Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? (Rom, 6:2). Dan Yohanes menyatakan, “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.” (1 Yoh. 5:3). Dalam kelahiran baru, hati dibawa menjadi selaras dengan Allah, sebagaimana juga menjadi selaras dengan hukum-Nya. Bilamana perubahan besar ini terjadi pada orang berdosa, ia telah melewati dari kematian kepada kehidupan, dari dosa ke kesucian, dari pelanggaran dan pemberontakan ke penurutan dan kesetiaan. Hidup lama yang terpisah dari Allah telah berakhir, hidup baru yaitu hidup yang berdamai dan beriman kepada Allah, telah mulai. Kemudian “tuntutan hukum Taurat” akan “digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.” (Rom. 8:4).Dan bahasa jiwa akan berkata ,” O, betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari ” [ Maz 119 : 97 ].

“Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa.” (Maz. 19:7). Tanpa hukum Taurat, manusia tidak mempunyai pandangan yang benar mengenai kesucian dan kekudusan Allah, atau mengenai kejahatan dan kecemaran manusia itu sendiri. Mereka tidak mempunyai pandangan yang benar mengenai dosa, dan tidak merasa perlu bertobat. Tidak melihat keadaan mereka yang hilang sebagai pelanggar-pelanggar hukum Allah. Mereka tidak menyadari kebutuhan mereka akan darah pendamaian Kristus. Pengharapan keselamatan diterima tanpa perobahan hati yang drastis atau pembaharuan hidup. Demikianlah pertobatan dangkal merajarela, dan orang-orang banyak bergabung dengan gereja yang sebenarnya tidak pernah bersatu dengan Kristus.

Teori-teori pengudusan yang salah, juga yang timbul karena melalaikan atau menolak hukum Taurat ilahi, tampak menonjol dalam gerakan keagamaan sehari-hari. Teori-teori ini salah dalam doktrin dan berbahaya dalam akibat praktek sehari-hari. Dan fakta bahwa teori-teori ini mendapat perhatian umum, adalah sangat penting agar semua mempunyai pengertian yang jelas tentang apa yang diajarkan Alkitab mengenai pengudusan ini.

Penyucian yang benar adalah doktrin Alkitab. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika, menyatakan, “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu.” Dan ia berdoa, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya.” (1 Tes. 4:3; 5:23). Alkitab dengan jelas mengajarkan apa itu pengudusan, dan bagaimana cara memperolehnya. Juru Selamat mendoakan murid-murid-Nya, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firmanmu adalah kebenaran.” (Yoh. 17:17,19). Dan Rasul Paulus mengajarkan bahwa orang-orang percaya akan “disucikan oleh Roh Kudus.” (Roma 15:16). Apakah pekerjaan Roh Kudus itu? Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu kedalam seluruh kebenaran.” (Yoh. 16:13). Dan Pemazmur berkata, “Taurat-Mu itulah kebenaran.” (Maz. 119:142). Melalui firman dan Roh Allah telah dibukakan kepada manusia prinsip-prinsip agung kebenaran yang terkandung di dalam hukum-Nya. Dan oleh karena hukum Allah adalah “kudus, benar dan baik,” sebagai salinan kesempurnaan ilahi, maka tabiat yang dibentuk oleh karena penurutan kepada hukum itu juga adalah kudus. Kristus adalah contoh yang sempurna tabiat seperti itu. Ia berkata, “Aku menuruti perintah Bapa-Ku.” (Yoh. 15:10). “Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” (Yoh. 8:29). Para pengikut Kristus harus menjadi seperti Dia oleh rahmat Allah membentuk tabiat yang selaras dengan prinsip-prinsip hukum-Nya yang kudus. Inilah pengudusan menurut Alkitab.

Pekerjaan pengudusan ini dapat dicapai hanya melalui iman dalam Kristus, oleh kuasa Roh Allah yang tinggal di dalam hati. Rasul Paulus menasihati orang-orang percaya, “Hai Saudara-saudara, . . . tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:12,13). Orang-orang Kristen akan merasakan dorongan-dorongan atau desakan-desakan dosa itu, tetapi ia akan selalu berperang melawannya. Di sinilah pertolongan Kristus diperlukan. Kelemahan manusia menjadi bersatu dengan kekuatan ilahi, dan iman berseru, “Tetapi syukur kepada Allah yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus.” (1 Kor. 15:57).

-KA

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *