ALKITAB DAN REVOLUSI PERANCIS ( bagian 2)

revolusi prancis Copy

[AkhirZaman.org] Roh kebebasan berjalan bersama-sama dengan Alkitab. Dimana saja Injil diterima, pikiran orang-orang dibangunkan. Mereka mulai membuangkan belenggu yang mengikat mereka dalam perhambaan kebodohan, kebiasaan buruk dan ketakhyulan. Mereka mulai berpikir dan bertindak sebagai anusia. Raja-raja melihat hal itu dan merasa takut oleh karena pemerintahan mereka yang sewenang-wenang.

Roma tidak berlambatan untuk menghancurkan ketakutan mereka. Paus berkata kepada wali raja Perancis pada tahun 1525, “Aliran gila ini (Protestantisme) tiak saja mengacaukan dan membinasakan agama, tetapi juga semua pemerintahan, kebangsawanan, hukum, peraturan dan kedudukan.” — Felice, G. de, “History of the Protestants of France,” b. 1, ch. 2, par. 8. Beberapa tahun kemudian, duta kepausan mengamarkan raja, “Sri baginda, janganlah tertipu. Kaum Protestan akan mengacaukan ketertiban umum dan agama. . . . Takhta kerajaan dan mezbah sama-sama dalam bahaya . . . . Memperkenalkan agama baru berarti memperkenalkan pemerintah baru.” — D’Aubigne, “History of the Reformtaion in the Time of Calvin,” b. 2, ch. 36. Dan ahli-ahli teologi menghimbau permusuhan orang-orang dengan menyatakan bahwa ajaran Protestan “menarik orang-orang kepada hal-hal baru dan kebodohan, merampas kecintaan rakyat kepada rajanya, dan menghancurkan baik gereja maupun negara.” Dengan demikian Roma berhasil mempersiapkan Perancis menentang Pembaharuan. “Maka dihunuslah pedang penganiayaan yang pertama di Perancis untuk mendukung dan meninggikan raja, untuk melindungi para bangsawan, dan menegakkan hukum dan undang-undang.” — Wylie, b. 13, ch. 4.

Para pemerintah negeri itu tidak bisa meramalkan akibat-akibat dari kebijakan dan peraturan yang menentukan ini. Pengajaran Alkitab sebenarnya menanamkan di dalam pikiran dan hati manusia azas-azas peradilan, pengendalian diri, kebenaran, keadilan dan kedermawanan, yang menjadi batu penjuru bagi kemakmuran bangsa. “Kebenaran meninggikan derajat bangsa.” Dengan demikian “takhta menjadi kokoh.” (Amsal 14:34; 16:12). “Dimana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.” (Yesaya 32:17). Ia yang menuruti hukum ilahi akan menuruti dan menghormati hukum-hukum negaranya. Ia yang takut akan Allah akan menghormati raja yang menjalankan semua kejujuran dan wewenangnya yang sah menurut hukum. Tetapi Perancis yang malang melarang Alkitab dan mengharamkan murid-muridnya. Dari abad ke abad orang-orang yang jujur dan yang setia kepada prinsip, orang-orang yang mempunyai intelek yang tinggi dan moral yang kuat, yang mempunyai keberanian untuk mengakui keyakinannya, dan yang mempunyai iman untuk menderita demi kebenaran, — untuk selama berabad-abad orang-orang ini bekerja sebagai budak-budak di dapur kapal-kapal, binasa di atas tiang pembakaran, atau membusuk di penjara bawah tanah. Beribu-ribu orang mencari selamat di pelarian, dan hal ini terus berlanjut selama dua ratus lima puluh tahun sesudah Pembaharuan dimulai.

“Jarang ada generasi bangsa Perancis selama jangka waktu yang panjang itu yang tidak menyaksikan murid-murid kabar Injil yang melarikan diri dari hadapan penganiaya yang ganas sambil membawa bersama mereka kepintaran, kesenian kerajinan dan usaha industri, peraturan, dalam hal-hal mana mereka menonjol, sehingga memperkaya negeri-negeri tempat mereka berlindung.Dan dalam perbandingan, sementara mereka memperkaya negara-negara lain dengan kebolehan-kebolehan yang baik ini, dalam pada itu mereka mengosongkan negara mereka dari kebolehan-kebolehan tersebut. Jika sekiranya semua yang telah mengalir keluar itu tetap tinggal di Perancis, jika sekiranya selama tiga ratus tahun ini kecakapan industri orang-orang yang melarikan diri itu mengusahakan tanah negeri itu, jika selama tiga ratus tahun ini bakat artistik mereka meningkatkan manufaktur, jika selama tiga ratus tahun ini kejeniusan kreatifitas dan kemampuan analitik mereka memperkaya literatur dan mengembangkan ilmunya, jika hikmat mereka telah menuntun konsili-konsili mereka, keberanian mereka berjuang dalam peperangan, keadilan mereka membentuk hukum-hukumnya, dan agama Alkitab memperkuat intelek dan memerintah hati nurani rakyat, maka alangkah besarnya kemuliaan yang mengelilingi Perancis sekarang ini! Betapa besarnya, makmurnya, dan bahagianya negara itu — sebagai teladan bagi bangsa-bangsa lain.

“Akan tetapi kefanatikan yang membabibuta dan tak terhindarkan mengusir dari negerinya guru-guru kebajikan, pelopor-pelopor peraturan dan pembela-pembela setia takhta kerajaan. Perancis berkata kepada orang-orang yang sebenarnya mampu membuat negeri itu ‘terkenal dan mulia’ di dunia ini, ‘mana yang engkau pilih, tiang gantungan pembakaran atau pengasingan’. Akhirnya negeri itupun mengalami keruntuhan benar-benar. Tidak ada lagi hati nurani untuk menegur, tidak ada lagi agama yang harus diseret ke tiang gantungan pembakaran. Tidak ada lagi patriotisme untuk diusir ke pengucilan.” — Wylie, b. 13, ch. 20. Dan akibatnya adalah Revousi dengan segala akibatnya.

“Dengan perginya orang-orang Huguenots melarikan diri, maka terjadilah kemerosotan umum di Perancis. Kota-kota industri yang dulu bertumbuh pesat sekarang jatuh merosot tajam. Daerah-daerah subur kembali menjadi tandus. Kelambanan intelektual dan kemerosotan moral menggantikan masa kemajuan. Paris menjadi salah satu tempat orang-orang miskin, dan diperkirakan, pada permulaan Revolusi, dua ratus ribu orang yang sangat miskin mengharapkan belas kasihan dari tangan raja. Kaum Yesuit sajalah yang terus maju di negara yang sedang merosot itu, dan memerintah gereja-gereja dan sekolah-sekolah, penjara-penjara dan dapur-dapur kapal dengan kelaliman yang mengerikan.”

Sebenarnya Injil akan membawa kepada Perancis penyelesaian masalah polotik dan sosial yang membingungkan para ulama dan rajanya, dan para pembuat undang-undangnya, yang akhirnya menjerumuskan bangsa itu kepada anarki dan keruntuhan. Tetapi dibawah dominasi Roma oarng-orang telah kehilangan berkat pelajaran dari Juru Selamat, yaitu pelajaran penyangkalan diri dan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri. Mereka telah dituntun jauh dari penyangkalan diri demi kebaikan orang lain. Orang kaya tidak merasa ditegur atas penindasan mereka terhadap orang miskin. Orang miskin tidak mendapat imbalan yang setimpal atas pelayanan dan kehinaan yang mereka alami. Rasa mementingkan diri orang kaya dan orang-orang yang berkuasa bertumbuh semakin nyata dan semakin menekan. Selama berabad-abad ketamakan dan tindakan tidak bermoral para bangsawan mengakibatkan pemerasan yang sangat menghimpit para petani. Orang kaya mempersalahkan orang miskin dan orang miskin membenci orang kaya. Di beberapa daerah tanah pertanian dikuasai oleh para bangsawan, dan golongan pekerja hanyalah sebagai penyewa. Mereka bergantung kepada belas kasihan tuan-tuan tanah, dan mereka terpaksa tunduk kepada permintaan tuan-tuan tanah itu yang terlalu tinggi. Beban untuk mendukung baik gereja maupun negara terletak pada golongan bawah dan menengah, yang dibebani dengan pajak yang tinggi oleh pemerintah dan gereja. “Kesenangan dan kehendak para bangsawan dianggap sebagai hukum tertinggi. Para petani dan peladang kelaparan, semua karena penindasan mereka yang kejam. . . . Rakyat dipaksa untuk menanyakan kemauan para tuan tanah dalam setiap tindakan mereka. Kehidupan para petani adalah kehidupan yang terus menerus bekerja dan penderitaan yang yang tidak ada habis-habisnya. Keluhan mereka, jika mereka berani mengeluh, diperlakukan dengan penghinaan yang kurang ajar. Pengadilan selalu memenangkan bangsawan bilamana berhadapan dengan petani. Hakim sudah biasa menerima sogok. Dan perobahan pikiran yang tiba-tiba dari para bangsawan mempunyai kekuatan hukum, oleh karena sistem korupsi dan kebejatan yang sudah merajalela ini. Dari pajak yang ditarik dari rakyat jelata, oleh pegawai penting pemerintah dan para rohaniawan, tidak sampai separuh yang sampai ke perbendaharaan kerajaan atau perbendaharaan keuskupan. Yang selebihnya diboroskan dalam pemanjaan diri yang tidak bermoral. Orang-orang yang memelaratkan temannya sesama rakyat, mereka sendiri bebas dari pajak, dan berhak atas semua penunjukan negara berdasarkan undang-undang. Golongan-golongan yang mempunyai kedudukan sosial yang baik dan yang mempunayi kekayaan, berjumlah seratus lima puluh ribu orang, dan untuk memuaskan hati mereka berjuta-juta orang telah dihukum dengan kehidupan yang tanpa harapan dan yang merendahkan derajatnya.” 

Istana menjadi tempat kemewahan dan percabulan yang tak bermoral. Hanya sedikit rasa percaya yang terjadi antara rakyat dan penguasa. Semua undang-undang dan peraturan pemerintah dipandang dengan rasa curiga, sebagai suatu kelicikan dan yang mementingkan diri sendiri. Selama lebih setengah abad sebelum Revolusi terjadi, takhta telah diduduki oleh Louis XV, yang, walaupun dalam waktu yang berbahaya seperti itu, ia dikenal sebagai seorang pemalas, semberono, dan bernafsu jahat. Dengan negara yang diperinth oleh kaum bangsawan yang bermoral bejat dan kejam serta dengan penduduk golongan yang miskin dan bodoh, maka keuangan negara sangat merosot, dan rakyat menjadi jengkel dan marah. Tidak diperlukan mata seorang nabi untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Raja biasa memberi jawaban kepada para penasihatnya, “Usahakan membuat segala sesuatu berjalan terus selama saya masih hidup. Setelah saya mati biarlah berjalan menurut kemauannya.” Sia-sia himbauan untuk mengadakan suatu pembaharuan. Ia melihat kejahatan itu, tetapi tidak mempunyai keberanian atau kuasa untuk menghadapinya. Malapetaka yang menantikan Perancis terlalu jelas digambarkan dalam jawaban kemalasan yang mementingkan diri, “Sesudah aku, banjir besar!”

Dengan bekerja melalui kecemburuan raja-raja dan golongan-golongan yang memerintah, Roma telah mempengaruhi mereka untuk terus memperbudak rakyat. Mengetahui dengan jelas bahwa negara dengan demikian akan dilemahkan, dan bermaksud dengan cara ini mengikat baik pemerintah maupun rakyat ke dalam perbudakannya. Dengan peraturannya yang memandang jauh kedepan ia melihat bahwa untuk memperbudak orang-orang dengan efektif harus dibelenggu jiwa mereka. Dan untuk memastikan mereka tidak melarikan diri dari perbudakan itu ialah dengan tidak memberikan kebebasan sama sekali kepada mereka. Yang seribu kali lebih ngeri dari penderitaan fisik yang diakibatkan kebijakan atau pertauran ini ialah pemerosotan moral. Karena tidak lagi mendapat pengajaran dari Alkitab, selain dari ajaran kefanatikan dan mementingkan diri sendiri, maka rakyat diselubungi oleh kebodohan dan ketakhyulan, dan tenggelam dalam sifat-sifat buruk, sehingga sama sekali tidak sesuai lagi untuk mempunyai pemerintahan sendiri.

Akan tetapi akibat dari semua ini berbeda dengan apa yang diharapkan oleh Roma. Sebagai gantinya membuat massa secara buta tunduk kepada dogma-dogmanya, pekerjaannya telah berhasil membuat mereka menjadi tidak setia dan menjadi revolusionis atau meberontak. Romanisme mereka pandang dan benci sebagai kelicikan imam-imam. Mereka memandang para pendeta dan rohaniawan sebagai kelompok penindas mereka. Satu-satunya yang mereka kenal ialah ilah Roma, ajarannya adalah agama mereka. Mereka menganggap ketamakannya dan kekejamannya adalah buah-buah sah Alkitab, sedangkan mereka sendiri tidak kebagian apa-apa.

Roma telah memberikan gambaran yang salah mengeni tabiat Allah, dan memutar-balikkan tuntutan-Nya. Dan sekarang menolak baik Alkitab maupun Pengarangnya. Roma menghendaki orang percaya kepada dogma-dogmanya dengan membabibuta, seolah-olah itu dibenarkan oleh Alkitab. Sebagai reaksinya, Voltaire dan rekan-rekannya sama sekali mengesampingkan firman Allah, dan menyebarkan dimana-mana racun pemberontakan. Roma telah menginjak-injak rakyat, dan sekarang massa, yang telah dihinakan dan brutal, melepaskan diri dari kelaliman dan menolak semua kekangan pembatasan. Kemarahan terhadap kecurangan yang licik, yang kepada siapa selama ini mereka membayar upeti atau penghormatan, mereka menolak kebenaran dan kepalsuan sekaligus. Dan para budak ini salah mengerti mengenai kebebasan mereka, sehingga mereka bersukaria di dalam kebebasan mereka yang masih di angan-angan.

Pada permulaan Revolusi, atas izin raja, rakyat diberi perwakilan melebihi para bangsawan dan para rohaniawan digabungkan. Dengan demikian perimbangan kekuasaan ada di tangan mereka. Tetapi mereka belum siap untuk menggunakannya dengan bijaksana dan dengan sikap yang wajar. Ingin mengganti kesalahan-kesalahan yang membuat mereka menderita, mereka memutuskan untuk menjalankan rekronstruksi (membangun kembali) masyarakat. Kemarahan rakyat jelata, yang pikirannya dipenuhi oleh kenangan kesalahan pahit yang lama, memutuskan untuk merevolusi keadaan penderitaan yang telah tidak tertanggung lagi, dan membalas dendam kepada mereka yang mereka anggap sebagai penyebab penderitaan mereka. Orang-orang yang tertindas itu melaksanakan apa yang mereka pelajari dari kelaliman, dan menjadi penindas mereka yang telah menindas mereka.

Guillotine CopyPerancis yang malang menuai dalam darah tuaian yang ia telah tabur. Sungguh mengerikan akibat dari pengabdiannya kepada kekuasaan Romawi. Dimana Perancis, dibawah pengaruh Romanisme, telah mendirikan tiang gantungan pembakaran yang pertama pada permulaan Pembaharuan, sekarang Revolusi mendirikan gullotinnya (alat pemenggalnya) yang pertama. Di tempat yang sama, dimana para syuhada iman Protestan dibakar pada abad ke enam belas, korban pertama di gullotin pada abad ke delapan belas. Dalam penolaknnya akan Injil yang sebenarnya membawa kesembuhan kepadanya, Perancis telah membuka pintu kepada pemberontakan dan kehancuran. Pada waktu pembatasan-pembatasan hukum Allah dikesampingkan, telah diketemukan bahwa hukum-hukum manusia tidak cukup untuk menahan gelombang kuat nafsu manusia. Dan bangsa itu bangkit kepada revolusi dan anarki. Perang melawan Alkitab meresmikan suatu era yang dalam sejarah dunia disebut sebagai “Pemerintahan Teror.” Kedamaian dan kebahagiaan telah lenyap dari rumah dan hati manusia. Tak seorangpun merasa aman. Ia yang menang hari ini besok dicurigai dan dihukum. Kekerasan dan hawa nafsu merajalela.

Para rohaniawan dan para bangsawan dipaksa menyerah kepada kekejaman rakyat yang sudah bangkit naik pitam itu. Kehausan mereka untuk membalas dendam dirangsang oleh kematian raja; dan dia yang mendekritkan kematiannya, segera juga menyusul ke tiang gantungan pembakaran. Suatu pembunuhan umum atas semua yang dicurigai memusuhi Revolusi telah ditetapkan. Penjara-penjara penuh sesak, pada suatu waktu berisi lebih dari dua ratus ribu orang tawanan. Kota-kora kerajaan itu dipenuhi horor. Satu golongan atau kelompok revolusionis melawan golongan atau kelompok lain. Dan Perancis menjadi medan persaingan massa, digoncang oleh kekejaman hawa nafsu mereka. “Di Paris huru-hara dan kerusuhan susul menyusul, dan pnduduk terbagi-bagi dalam faksi-faksi, yang tampaknya tidak ada maksud lain selain saling membinasakan atau menyingkirkan.” Dan sebagai tambahan kepada penderitaan umum, bangsa ini menjadi terlibat dalam perang yang berkepanjangan yang paling merusakkan, dengan kekuasaan-kekuasaan besar. “Negara itu hampir-hampir bangkrut. Tentara berteriak karena tunggakan gaji mereka , orang-orang Paris kelaparan, daerah-daerah diporak-porandakan oleh perampok-perampok, dan peradaban hampir dilenyapkan dalam kekacauan dan kebebasan.”

Orang-orang telah belajar kekejaman dan penyiksaan yang diajarkan oleh Roma. Akhirnya telah datang hari pembalasan. Sekarang bukan murid-murid Yesus yang dilemparkan ke dalam penjara bawah tanah dan diseret ke tiang pembakaran. Murid-murid Yesus sudah lama binasa atau diusir ke pengasingan. Sekarang Roma merasakan kekuasaan kejam yang telah dilatihnya untuk bergembira dalam pekerjaan-pekerjaan penumpahan darah. “Contoh penganiayaan yang dipertontonkan oleh kaum rohaniawan Perancis selama bertahun-tahun, sekarang dibalaskan kepada mereka dengan kekerasan. Panggung-panggung pembakaran bersimbah darah para imam. Penjara-penjara dan kapal-kapal, yang pada suatu waktu di huni oleh orang-orang Huguenots, sekarang dipenuhi oleh penyiksa-penyiksa. Dirantai ke bangku dan bekerja mendayung kapal-kapal, kaum rohaniawan Roma Katolik mengalami semua bencna yang gereja mereka dengan sewenang-wenang lakukan kepada kaum bida’ahyang lemah-lembut.” — (Lihat Lampiran).

“Maka tibalah waktunya bilamana undang-undang yang paling biadab dan paling kejadm diberlakukan oleh pengadilan yang paling biadab dan paling kejam, bilamana tak seorangpun diperbolehkan menyapa tetangganya atau mengucapkan doa-doanya . . . tanpa bahaya dituduh melakukan kejahatan utama yang dapat di tuntut hukuman mati; bilamana mata-mata bersembunyi mengintai di setiap sudut, bilmanana gullotin bekerja keras setiap pagi, bilamana penjara-penjara penuh seperti penuhnya palka-palka kapal pembawa budak-budak, bilamana parit-parit mengalirkan darah berbuih ke Sungai Seine . . . . Sementara kereta yang penuh dengan korban-korban di dorong melalui jalan-jalan kota Paris menuju kebinasaan mereka, para kepala daerah, yang telah dikirim oleh komite kekuasaan tertinggi ke tiap-tiap departemen, berpesta pora dengan kekejaman yang luar biasa yang di ibukota sendiripun belum dikenal. Pisau alat pemotong itu naik turun terlalu lambat rasanya dalm pekerjaan pembantaian itu. Barisan panjang para tawanan diberondong dengan peluru. Lobang-lobang dibuat di dasar kapal tongkang yang penuh sesak. Kota Lyons menjadi padang gurun. Di Arras permohonan para tawanan supaya dibunuh dengan cepat bahkan ditolak. Dari Loire sampai ke Saumur hingga ke tepi laut, kawanan burung-burung gagak dan burung rajawali berpesta-pora memakan bangkai-bangkai yang bertelanjang, yang terikat berdua-dua sambil berpelukan dengan sangat mengerikan. Tidak ada belas kasihan yang ditunjukkan terhadap usia atau jenis kelamin. Jumlah pemuda dan pemudi yang berumur tujuh belas tahunan yang dibunuh oleh pemerintah yang keji, diperkirakan ratusan orang banyaknya. Bayi-bayi yang dirampas dari pelukan di dada ibunya ditusuk dengan lembing dan dilontarkan dari satu tebing ke tebing yang lain sepanjang barisan sepanjang barisan Jacobin.” — (Lihat Lampiran). Dalam tempo sepuluh tahun saja tak terkira banyaknya manusia yang dibinasakan.

Semua kejadian ini berlangsung seperti yang diinginkan oleh Setan. Inilah yang diusahakannya untuk dicapai sepanjang zaman. Kebijakannya adalah penipuan sejak dari permulaan sampai penghabisan, dan tujuan utamanya ialah mendatangkan bencana dan kehancuran kepada manusia, untuk merusakkan dan mengotori ciptaan Allah, merusakkan tujuan ilahi dalam kedermawanan dan kasih, dan dengan demikian menyebabkan dukacita di Surga. Kemudian oleh seni penipuan ini ia membutakan pikiran manusia, dan menuntun untuk mempersalahkan semua yang terjadi ini kepada Allah, seolah-olah semua penderitaan ini adalah akibat dari rencana Khalik. Demikian juga, bilamana mereka yang telah dihinakan dan yang diperlakukan dengan kejam melalui kekuasaannya yang kejam, memperoleh kemerdekaan mereka, ia mendorong mereka untuk bertindak sewenang-wenang dan kejam. Kemudian gambaran perbuatan tanpa kekang ini ditunjukkan oleh kelaliman dan penindasan sebagai akibat dari kebebasan atau kemerdekaan.

Bilamana kesalahan yang disembunyikan diketahui, Setan hanya menutupinya dengan penyamaran yang lain. Dan orang banyak menerimanya dengan senang hati seperti yang semula. Pada waktu orang-orang menemukan bahwa Romanisme adalah penipuan, dan melalui agen-agennya ia tidak bisa menuntun orang-orang untuk melanggar hukum Allah, ia mendorong mereka untuk menganggap semua agama adalah penipu, dan Alkitab itu adalah cerita-cerita dongeng. Dan dengan mengesampingkan undang-undang ilahi, mereka menyerahkan diri kepada kejahatan yang tidak dapat dikekang itu.

Kesalahan fatal yang dilakukan oleh bencana ini bagi rakyat Perancis ialah tidak mau tahu mengenai kebenaran besar: bahwa kebebasan yang benar terletak pada larangan hukum Allah. “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti.” “Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik!” firman Tuhan. “Tetapi siapa mendengarkan Aku, ia akan tinggal dengan aman terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka.” ( Yes. 48:18; Amsal 1:33).

Para ateis, pelanggar hukum, dan orang-orang yang sudah murtad, menentang dan menolak hukum Allah. Tetapi akibat-akibat dari pengaruh mereka membuktikan bahwa kesejahteraan manusia tergantung kepada penurutan kepada hukum-hukum ilahi. Mereka yang tidak membaca pelajaran dari buku Allah, diminta agar membacanya dalam sejarah bangsa-bangsa.

Pada waktu Setan bekerja melalui Gereja Roma untuk menuntun orang-orang mengingkari penurutan, agen-agennya disembunyikan dan pekerjaannya begitu samar-samar sehingga kemerosotan dan penderitaan yang diakibatkannya tidak terlihat sebagai akibat dari pelanggaran. Dan kuasanya sebegitu jauh dihalangi oleh pekerjaan Roh Allah, sehingga maksud-maksudnya tidak mencapai keberhasilan penuh. Orang-orang tidak menelusuri akibatnya dari penyebabnya untuk mengetahui sumber kesusahan mereka. Tetapi dalam Revolusi, hukum Allah telah dikesampingkan oleh Konsili Nasional secara terbuka. Dan dalam Pemerintahan Teror yang menyusul, pekerjaan sebab dan akibat tampak jelas dilihat semua orang.

Pada waktu Perancis menolak secara terang-terangan dan mengesampingkan Alkitab, orang-orang jahat dan roh-roh kegelapan bersorak-sorai oleh karena tercapainya tujuan yang sudah lama dirindukan — suatu kerajaan yang bebas dari kungkungan hukum Alah. Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati nurani “penuh niat untuk berbuat jahat.” ( Pengkhotbah 8:11-13). Tetapi pelanggaran hukum keadilan dan kebenaran tidak bisa tidak harus mengakibatkan penderitaan dan kehancuran. Walaupun tidak datang segera pengadilan itu, kejahatan manusia bagaimanapun juga pasti mendatangkan kebinasaan mereka. Kemurtadan dan kejahatan yang sudah berabad-abad telah mendatangkan murka pada hari pembalasan. Dan apabila kejahatan mereka telah penuh, para pembenci Allah itu sudah terlambat untuk mengetahui bahwa adalah hal yang menakutkan menghabiskan panjang sabar ilahi. Roh Allah yang mencegah dan mengendalikan itu, yang mengendalikan pekerjaan jahat Setan, telah ditarik kembali. Dan dia yang kesukaannya ialah kesengsaraan manusia, telah diizinkan berbuat sekehendak hatinya. Mereka yang telah memilih pemberontakan, dibiarkan untuk menuai buah-buahnya, sampai negeri itu dipenuhi dengan kejahatan yang terlalu mengerikan untuk dilukiskan dengan pena. Dari daerah-daerah yang sudah rusak dan kota-kota yang sudah hancur, suatu jeritan yang memilukan terdengar — suatu jeritan penderitaan yang paling pahit. Perancis diguncangkan seolah-olah oleh gempa bumi. Agama, hukum, keteriban sosial, keluarga, negara dan gereja — semua telah dipukul oleh tangan yang tidak beriman yang telah bangkit melawan hukum Allah. Benarlah perkataan orang bijaksana itu, “Orang jahat aka jatuh oleh kejahatannya.” “Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya. Tetapi orang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah.” (Pengkhotbah 8:11-13). “Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan Tuhan,” “maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka.” (Amsal 1:29,31).

Saksi-saksi Allah yang setia, yang dibunuh oleh kuasa penghujat yang “muncul dari jurang maut” tidak lama tetap berdiam. “Tiga setengah hari kemudian masuklah roh kehidupan dari Allah ke dalam mereka, sehingga mereka bangkit dan semua orang melihat mereka menjadi sangat takut.” (Wah. 11:11). Pada tahun 1793 dekrit penumpasan agama Kristen dan pengesampingan Alkitab, diluluskan oleh Majelis Permusyawatan Perancis. Tiga setengah tahun kemudian suatu resolusi membatalkan dekrit itu. Dengan demikian diberikan toleransi kepada Alkitab pada hari itu juga. Dunia berdiri heran terperanjat melihat banyaknya kejahatan yang diakibatkan oleh penolakan Kitab yang Suci itu, dan manusia menyadari perlunya percaya kepada Allah dan Firman-Nya sebagai landasan kebajikan dan moralitas. Tuhan bersabda, “Siapakah yang engkau cela dan engkau hujat? terhadap siapakah engkau menyaringkan suaramu dan memandang dengan sombong-sombong? Terhadap Yang Mahakudus, Allah Israel.” (Yes. 37:23). “Sebab itu ketahuilah, Aku mau memberitahukan kepada mereka, sekali ini Aku akan memberitahukan kepada mereka kekuasaan-Ku dan keperkasaan-Ku, supaya mereka tahu, bahwa nama-Ku Tuhan.” (Yer. 16:21).

Mengenai kedua saksi-saksi, nabi menyatakan lebih jauh, “Dan orang-orang itu mendengar suatu suara yang nyaring dari Surga berkata kepada mereka: ‘Naiklah kemari!’ Lalu naiklah mereka ke langit di selubungi awan, disaksikan oleh musuh-musuh mereka.” (Wah. 11:12). Semenjak Perancis memerangi kedua saksi-saksi Allah itu, maka saksi-saksi itu telah dihormati seperti yang belum pernah sebelumnya. Pada tahun 1804, British & Foreign Bible Society (Lembaga Alkitab Inggris & Luar Negeri) telah diorganisasi. Hal ini diikuti organisasi-organisasi yang sama, dengan banyak cabang-cabangnya di benua Eropa . Pada tahun 1816 didirikan American Bible Society (Lembaga Alkitab Amerika). Pada waktu British Society didirikan, Alkitab itu telah dicetak dan diedarkan dalam 50 bahasa. Sejak waktu itu Alkitab telah diterjemahkan kedalam lebih dari 400 bahasa dan bahasa-bahasa daerah. 

Selama lima puluh tahun sebelum tahun 1792, hanya sedikit perhatian diberikan kepada misi-misi luar negeri. Tidak ada lembaga-lembaga didirikan, dan hanya ada sedikit gereja-gereja yang berusaha menyebarkan Kekristenan ke dunia kafir. Tetapi menjelang akhir abad ke delapan belas, terjadi perubahan besar. Orang-orang menjadi tidak merasa puas dengan hasil-hasil nasionalisme, dan menyadari perlunya pernyataan ilahi dan agama eksperimental. Dari waktu ini pekerjaan misi luar negeri mendapat pertumbuhan yang luar biasa. 

Kemajuan dalam bidang percetakan memberikan rangsangan kepada pekerjaan penyebar-luasan Alkitab. Sarana komunikasi yang bertambah antara berbagai negara, runtuhnya hambatan prasangka buruk dan ekslusif kebangsaan, dan hilangnya kekuasaan paus Roma, telah membuka jalan untuk masuknya firman Allah. Untuk selama beberapa tahun Alkitab telah dijual tanpa hambatan dijalan-jalan kota Roma, dan sekarang telah dibawa ke segala penjuru dunia yang berpenduduk.

Voltaire, yang tidak percaya kepada Tuhan, suatu kali berkata, “Saya sudah bosan mendengar orang-orang berulang-ulang mengatakan mengenai dua belas orang yang mendirikan agama Kristen. Saya akan membuktikan bahwa seorang saja sudah cukup untuk meruntuhkannya.” Seabad sudah berlalu sejak kematiannya. Berjuta-juta orang telah berjuang bersama-sama memerangi Alkitab. Tetapi nyatanya jauh dari keruntuhan. Kalau pada zaman Voltaire ada seratus Alkitab, sekarang ada sepuluh ribu Alkitab, ya, bahkan seratus ribu Alkitab, Buku Allah. Seorang Pembaharu yang terdahulu berkata mengenai gereja Kristen, “Alkitab itu adalah landasan yang telah merusakkan banyak palu.” Tuhan berkata, “Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan akan engkau buktikan salah.” (Yes. 54:17). “Firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” “Segala titah-Nya teguh, kokoh untuk seterusnya dan selama-lamanya dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.” ( Yes. 40:8; Maz. 111:7,8.). Apa saja yang didirikan atas kekuasaan manusia akan hancur, tetapi yang didirikan atas landasan batu zaman, firman Allah, akan teguh berdiri sampai selama-lamanya.

 

-KA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *