Perjalanan Moral Gereja (Moral Slides)

akhir zaman

[AkhirZaman.org] Protestantisme dimaksudkan menjadi benteng untuk selama-lamanya  oleh  negara Amerika Serikat dengan alasan kebaikan.  Awalnya gereja memang adalah suatu kekuatan untuk melawan dan memerangi kebejatan moral.  Gereja-gereja Protestan Amerika mempromosikan  nilai-nilai sebagai  suatu percontohan kehidupan suatu warga yang berintegritas didalam maupun di luar pemerintah .  Dari Amerika-lah prinsip-prinsip protestantisme yang agung kemudian menyebar kelusuruh pelosok dunia ini.  Iman menjadi kekuatan pendorong dalam kehidupan manusia.

Kemudian perubahan terjadi pada tahun 1960-an ketika pemikiran katolik masuk bergabung dengan  Protestan. Awalnya dengan kemasan eksekutif, namun kemudian dengan alasan melemahnya komitmen kepada Kristus. Para pemikir yang berpengaruh seperti Dietrich Bonhoeffer, Johannes Baptis Metz dan Jurgen Moltmann kemudian mempromosikan Teologi Liberal  (liberation theology).  Mereka mempengaruhi  misi gereja-gereja Kristen di seluruh dunia.  Pengaruh lainnya  yang kemudian masuk adalah suatu toleransi dalam hal sosial dan sekuler yang lebih besar. Gereja-gereja Protestan Amerika menjadi tersesat.

Dewan Gereja Nasional (DGN) kemudian meninggalkan dasar persekutuan  yang ronahi dan mulai untuk melihat ketentuan-ketentuan utama dari kajian sosio-politik. Gereja-gereja arus utama yang duduk di meja administratif DGN berjalan menyimpang dari tujuan Kekristenannya ke arah “agama sebelah kiri.”

Perubahan dalam pemikiran gereja Protestan ini menuntun banyak gereja garis-utama untuk mengabaikan seruan agama dan politik yang konservatif yang berdiri untuk kebenaran dan reformasi moral. Selama Perang Dingin ketulusan diabaikan dengan praktek muslihat menumbuhkan hati yang licik pada para pemimpin Kristen. Protestantisme Amerika, yang hanya menyisahkan perlawanan yang kecil terhadap Katolik, memulai tren yang baru, meminimalkan kebenaran dan mempromosikan sentimentalisme dan sekularisme.

Membicarakan dosa dari mimbar justru dianggap kejahatan itu sendiri. Kekristen menjadi dangkal. Penyangkalan diri, keberanian dan kesabaran tidak lagi diperlukan. Toleransi menjadi penawar untuk rasa bersalah. Penurutan terhadap hukum-hukum Allah, pertobatan dari pemberontakan serta kemungkinan bahwa Tuhan bisa selama-lamanya menolak orang berdosa  telah terkubur di bawah rawa fantasi agama.

Sekitar waktu ini terjemahan baru Alkitab muncul. Pada tahun 1951 Revised Standard Version beredar. Penulis nya adalah pemikir liberal, seperti Millar Murrows, yang mengatakan, “Kita tidak bisa mengambil Alkitab secara keseluruhan dan mengangap setiap bagiannya sebagai suatu pernyataan dengan otoritas ilahi tentang apa yang harus kita percaya dan lakukan” (Millar Murrows, Outline of Biblical Teologi), dan Russell Bowie, yang merasa bahwa Perjanjian Lama dipenuhi dengan “tradisi yang berlebihan” dan “cerita rakyat” (Walter Rusell Bowe, Great Pria dari Alkitab, NY Harper dan Brothers, 1937, hal 1).

Sebuah Penolakan terhadap tren ini berkembang dari  pemimpin yang bermunculan yang menyebut diri mereka “fundamentalis.” Mereka berusaha untuk memperkuat kembali standar Alkitab yang tua.  Yang lainnya adalah Billy Graham, Bob Jones, Sr; John R. Rice, Charles Woodbridge, Harry Ironside dan David O. Fuller, dan kemudian, pada awal tahun 1980-an, Jerry Fallwell dan Jack Van Impe memulai sesuatu yang kemudian  menjadi bentuk liberalisme lainnya,  yaitu “gerakan evangelical” (evangelical movement).

Meskipun mengklaim setia kepada Kitab Suci sama seperti kaum fundamentalis, orang-orang  evangelical (injili) kemudian menjadi apa yang disebut William Ashbrook sebagai  “netralisme baru.” Ini telah berkembang menjadi gerakan besar kompromi antara Katolik dan Protestan dengan bersekutu atas maksud kemasyarakatan dan meminimalis perbedaan-perbedaan yang bersifat doktrin. Mereka menjadi “diplomat” bagi Kristus – bukan separatis – namun pemenang (perangkul).

Protestantisme mula-mula adalah anti-Roma. Gereja Katolik telah menjadi Babel dan menjadi simbol antikristus. Gerakan injili baru kemudian dengan sedemikian rupa telah membuat hal ini diabaikan. Para pemimpin protestan masa lalu yang “menentang oleh iman” telah digantikan oleh golongan yang terus tumbuh ini, memerintahkan  persatuan dengan semua resikonya.

Suatu bentuk baru dari “evangelicalisme” telah dipopulerkan oleh Charles Swindoll, Max Lucado, Charles Colson dan James Dobson.  Para pemimpin Kristen – kemudian seperti Bill Bright, Harold Lindsell, Tony Campolo, D. James Kennedy, David Hocking, Bill Hybel, Charles Stanley, Luis Palau – telah mengijinkan masuk ajaran yang menyimpang itu.

Evangelical  kemudian menjadi sebuah gerakan global dengan banyak yayasan gereja lokal, seperti “National Religious Broadcasters Association”, “Back to the Bible”, dan “National Sunday School Association”, yang mendukungnya.  Penerbitan-penerbitan, sekolah-sekolah dan universitas serta konferensi-konfrensi internasional akhirnya menetapkan apa yang disebut oleh Ernest Pickering pada judul buku-bukunya – “Tragedi dari Kompromi” (“The Tragedy of Compromise”).

Gerakan Evangelical (injili) ditandai oleh:

1. Penolakan perbedaan denominasi
2. Pemisahan diganti dengan dialog yang toleran
3. Tidak suka dengan mempersoalkan perbedaan yang bersifat doktrin
4. Penolakan terhadap segala sesuatu yang secara Alkitabiah negatif – dengan filsafat “jangan menghakimi”
5. Cinta dan persatuan di atas dari ajaran/doktrin
6. Mempromosikan penampilan intelektualisme dan citra skolar
7. Menggolongkan kebenaran menjadi “penting” dan “tidak penting”
8. Mengangkat kegiatan sosial-politik ke tingkat yang sama dengan “Perintah Agung” (mat 28:19,20)
9. Netralitas terhadap peperangan rohani
10. Kelembutan terhadap “Kekristenan yang tegas” –Lihat: www.wayoflife.org

Pemikiran alternatif tentang kekristenan Ini menyebabkan kesepakatan ekumenis yang tak terelakkan yang di kenal dengan” Evangelicals and Catholics Together “ (kaum Ijili dan Katolik Bersama) pada bulan Maret 1994. Dengan tema ikatan dan kesatuan mengemudi kepemimpinan Kristen modern, ideologi sekuler diadopsi. Teknik pemasaran duniawi menjadi populer. Musik yang terdengar tidak berbeda dengan yang di ruang  dansa, di konser metal atau yang ada di bar menjadi bagian dari pengalaman “beribadah”.  Komitmen kepada Yesus dan segala yang Ia tegakkan telah digantikan dengan keprihatinan sosial, dengan mengagungkan perdamaian dan cinta. Teologi liberal telah tiba.

lebih dari itu, banyak yang datang kepada mendambakan “kegembiraan” dari “gereja”.  “Kebahagiaan” dari kebebasan berekspresi  yang baru ini menjadi magnet untuk menarik massa. Ideologi-ideologi pengendali yang sekuler dari  Hybel Bill / Warren Rick menjadi rancangan banyak pemimpin gereja dan bahkan denominasi itu sendiri. DAN – pekerjaan Roh Kudus telah menjadi alat yang asing untuk mengubah hati .

Apa yang manusia bisa lakukan menggantikan apa yang Tuhan akan lakukan didalam individu yang berkomitmen.  Meningkatnya perhatian dan ketertarikan pada jumlah keanggotaan, pertumbuhan gereja dan “ukuran yang besar”  mengusir segala sesuatu yang namanya seorang Kristen yang berkomitmen.

Kebutuhan manusia terbesar dalam mengalami penyempurnaan kebenaran dari Yesus perluh diluruskan. Ini adalah sebuah komitmen untuk suatu kehidupan yang secara teliti mengikuti petunjuk Allah.  Kita tidak bisa diselamatkan tanpa menyadari kita harus diselamatkan dari apa.  Selanjutnya, keindahan Yesus dan kuasa-Nya yang menyelamatan menjadi magnet.  Lalu kita berkomitmen kepada-Nya dan hanya Dia saja dan bukan kepada suatu gerakan yang bangkit  yang tidak lebih tinggi dari sekedar kepemimpinan manusia. Anugerah mengubahkan –  mereka yang membiarkan Dia masuk kedalam hati. Hal ini membutuhkan komitmen yang kekal dan perang penolakan terhadap dosa tidak akan berakhir sampai Yesus datang kembali.

Setiap gereja atau pemimpin yang mempromosikan gerejanya  lebih dari pada suatu komitmen atau kasih karunia tanpa ketaatan telah bergabung dengan gerakan evangelis sekuler yang melanda dunia. Meskipun ini anti-pemisahan, itu sesungguhnya adalah pemisahan dari Allah.

Franklin S. Fowler Jr., M.D.

Diterjemahkan dari:  endTime Issues… of Prophecy Research Initiative- endtimeIssues.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *