[RH] PEMANJAAN DIRI DENGAN MAKANAN MEWAH

y3loowbus Copy

‚ÄúTaruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!” (Amsal 23:2).

[AkhirZaman.org] Keluarga manusia telah memanjakan suatu keinginan yang menjadi-jadi terhadap makanan mewah, sampai telah menjadi suatu kebiasaan untuk menumpuk semua makanan enak yang mungkin dimakan ke dalam perut. 

Terutama pada pesta-pesta pelesir, nafsu makan dimanjakan dengan hanya sedikit pengekangan. Makan siang dan makan malam yang mewah diikuti, yang terdiri atas daging-daging yang banyak kali diadakan dengan banyak suas, banyak kue, pastel, es krim, dll.

Orang-orang yang mengaku Kristen pada umumnya memimpin dalam kebiasaan berkumpul-kumpul begini. Sejumlah besar uang dikorbankan kepada dewa kebiasaan dan nafsu makan, dalam menyediakan pesta-pesta dengan makanan pilihan yang merusak kesehatan untuk menggoda nafsu makan, supaya melalui saluran ini sesuatu dapat diangkat guna maksud-maksud agama. Dengan demikian, para pendeta, dan orang-orang yang mengaku Kristen, telah melakukan bagian mereka dan mengeluarkan pengaruh mereka, dengan peraturan dan contoh, dalam memanjakan cara tidak bertarak dalam soal makan, dan dalam menuntun orang banyak kepada kerakusan yang merusak kesehatan. Gantinya menarik manusia kepada akal sehatnya, kepada kebajikannya, kemanusiaannya, kemampuan-kemampuannya yang mulia, maka tarikan yang paling berhasil yang dapat diadakan ialah kepada nafsu makan itu.

Pemuasan terhadap nafsu makan akan memikat manusia untuk mengorbankan uang ketika mereka tidak akan melakukan sesuatu yang lain. Alangkah suatu gambaran menyedihkan bagi orang-orang Kristen! Dengan pengorbanan seperti itu adakah Allah merasa senang? Alangkah jauh lebih berkenan kepada-Nya uang receh perempuan janda itu. Mengikuti contohnya seperti itu dari hati, akan dapat dilakukan dengan baik. Mendapatkan berkat surgawi mengikuti pengorbanan yang dilakukan seperti itu, dapat membuat persembahan yang paling sederhana memiliki nilai yang sangat tinggi. 

Pria dan wanita yang mengaku sebagai pengikut Kristus, sering menjadi budak mode, dan budak nafsu makan yang rakus. Waktu dan tenaga untuk kumpulan yang sudah menjadi kebiasaan, yang seharusnya diabdikan untuk maksud yang lebih tinggi dan lebih mulia, digunakan dalam memasak pelbagai jenis makanan yang tidak menyehatkan. Oleh sebab sudah menjadi kebiasaan, banyak orang miskin dan yang bergantung atas pekerjaan mereka sehari-hari, terpaksa berbelanja untuk menyediakan bermacam-macam kue menyediakan pastel, dan pelbagai jenis makanan kebiasaan untuk para tamu, yang semata-mata hanya membahayakan mereka yang memakannya; padahal, pada saat yang sama mereka memerlukan uang yang dibelanjakan itu, untuk membeli pakaian bagi mereka sendiri dan anak-anak mereka. Waktu yang digunakan untuk memasak makanan guna memuaskan selera hanya untuk kepentingan perut, seharusnya digunakan untuk pengajaran moral dan agama terhadap anak-anak mereka.

( 2 SM 413, 414 )

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *