PENGENDALIAN SELERA ( 1 )

paradise Copy

Kegagalan Pengendalian Diri Adalah Dosa Pertama
[AkhirZaman.org] Di taman Eden, Adam dan Hawa memiliki bentuk tubuh yang indah, cantik, simetris dan sempurna. Mereka tidak berdosa, mereka berada dalam keadaan kesehatan yang sempurna. Keadaannya sangat berbeda dengan keadaan umat manusia zaman sekarang! Keindahanpun hilang, kesehatan yang sempurna tidak dikenal. Di mana-mana kita melihat penyakit, cacat dan kelemahan. Hawa yang cantik ditipu oleh ular dengan memakan buah dari satu-satunya pohon yang dilarang Allah untuk dimakan, ataupun dijamah, supaya mereka tidak mati. 

Hawa memiliki segala sesuatu demi kebahagiaannya. Dia dikelilingi oleh buah-buahan berbagai jenis. Namun buah larangan itu nampaknya lebih menarik kepadanya daripada buah pohon-pohon lainnya yang ada di taman yang mereka dapat makan dengan bebas. Dia tidak bertarak dalam hal keinginannya. Dia makan bersama suaminya setelah dipengaruhi olehnya, lalu keduanya mendapat kutuk. Bumi ini juga terkutuk karena dosa mereka. Sejak kejatuhan manusia, maka tidak bertarak hampir dalam segala hal pun muncul. Selera telah menguasai pertimbangan sehat. Keluarga umat manusia telah mengikuti satu arah melawan Allah, dan seperti Hawa telah ditipu oleh setan untuk tidak menghargai larangan yang telah ditetapkan Allah, merekapun membanggakan diri bahwa akibatnya tidak akan sehebat yang mereka pikirkan. Keluarga umat manusia telah melanggar hukum kesehatan. Mereka telah melangkahi hampir segala sesuatu. Penyakit bertambah terus-menerus. Setiap penyebab membawa akibat tersendiri.

Zaman Nuh dan Zaman Kita
Sementara duduk di atas bukit Zaitun, Yesus memberikan petunjuk kepada murid-murid Nya tentang tanda-tanda yang mendahului kedatangan-Nya: “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera. Mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua. Demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.” Dosa yang sama yang telah membawa penghakiman kepada. dunia di zaman Nuh, dosa yang sama pula terdapat di zaman kita. Sekarang manusia membawa kebiasaan makan dan minum begitu jauh sampai berakhir pada kegelojohan dan kemabukan. Dosa yang merajalela ini, yaitu dosa pemanjaan selera yang salah, telah membakar nafsu daging manusia pada zaman Nuh, dan telah membawa kebusukan yang menyebar. Kekerasan dan dosa telah sampai ke surga. Polusi moralitas ini akhirnya disapu dari muka bumi dengan air bah. Dosa kegelojohan dan kemabukan yang sama, melumpuhkan kepekaan moral penduduk Sodom, sehingga kejahatan nampaknya menjadi kesenangan di kota yang jahat itu, lalu Yesus memberikan amaran kepada dunia: “Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka sernua. Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri Nya.”

Di sini Kristus meninggalkan satu pelajaran yang paling penting bagi kita. Dia mau memaparkan di hadapan kita bahaya yang disebabkan oleh pemusatan pemikiran pada makanan dan minuman. Dia menghadapkan akibat dari selera yang dimanjakan dan tidak dibatasi. Kuasa moral dilemahkan, sehingga dosa tidak tampak lagi jahat. Kejahatan dianggap sepele, dan nafsu daging menguasai pikiran sampai prinsip-prinsip yang baik dan hati nurani dicabut, dan Allah dihujat. Semuanya ini adalah akibat dari cara makan dan minum yang berlebih lebihan. Kondisi seperti inilah yang dinyatakan Kristus akan terdapat pada kedatangan-Nya yang kedua kali.

Juruselamat menghadapkan kepada kita sesuatu yang lebih tinggi yang harus dikerjakan, lebih tinggi daripada apa yang kami makan dan apa yang kami minum, dan apa yang kami pakai. Makan, minum, dan berpakaian telah dilakukan begitu berlebihan sehingga menjadi kejahatan. Dosa ini adalah dosa zaman akhir merupakan tanda kedatangan Kristus yang segera. Waktu, uang, dan kekuatan, yang adalah milik Tuhan, dan yang telah dipercayakannya kepada kita, semuanya disia siakan dalam kemewahan pakaian dan kemewahan makanan demi selera yang salah, yang menurunkan vitalitas tubuh dan membawa penderitaan dan kebusukan. Mustahil bagi kita untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai satu persembahan yang hidup kepada Allah apabila kita masih tetap memenuhinya dengan kebusukan dan penyakit oleh pemanjaan diri kita sendiri yang penuh dosa itu.

Salah satu pencobaan yang paling berat yang harus dihadapi manusia ialah masalah selera. Pada mulanya Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan sempurna. Kemudian manusia bertumbuh semakin memanjakan diri sampai kesehatan sudah dikorbankan di atas mezbah selera. Penduduk dunia, sebelum air bah, tidak bertarak dalam hal makan dan minum. Mereka menggandrungi makanan daging walaupun pada waktu itu Allah tidak memberi izin untuk memakan makanan daging. Mereka makan dan minum sampai pemanjaan nafsu daging tidak mengenal batas, mereka menjadi begitu jahat sehingga Allah tidak dapat mempertahankan mereka lagi. Piala kejahatan sudah penuh dan Dia membersihkan bumi ini dengan air bah dari segala polusi moral.

Sodom dan Gomorah
Pada waktu penduduk bumi bertambah-tambah sesudah air bah, sekali lagi mereka melupakan Allah, dan merusak cara hidup mereka di hadapan Nya. Ketidakbertarakan dalam segala bentuk bertambah-tambah, sampai seluruh dunia menyerah kepada pengaruhnya. Kota-kota besar sudah dihapuskan dari permukaan bumi karena kejahatan besar dan pelanggaran yang membuat mereka menjadi satu noda di taman Allah yang indah. Pemuasan selera yang tidak alamiah menuntun kepada dosa yang menyebabkan pemusnahan Sodom dan Gomorah. Allah membuat kota Babilon sebagai contoh kegelojohan dan kemabukan. Pemanjaan selera dan nafsu daging adalah fondasi dari segala macam dosa mereka.

Esau Dikalahkan Selera
esau n ykb CopyEsau bernafsu memperoleh sepiring makanan sehingga mengorbankan hak kesulungannya untuk memuaskan selera. Setelah dipuaskan seleranya yang penuh nafsu itu, diapun melihat kebodohannya. Tetapi ia tidak mendapati peluang untuk pertobatan sekalipun itu dicarinya dengan hati-hati dan dengan air mata. Sangat banyak orang seperti Esau. Dia mewakili segolongan orang yang mempunyai berkat berharga yang khusus di dalam batas jangkauannya, yaitu warisan kekal, kehidupan yang sama panjang dengan kehidupan Allah, Pencipta alam semesta, kebahagiaan yang tak terhingga, dan seberkas kemuliaan yang kekal, tetapi mereka sudah lama memanjakan selera, nafsu daging, kecenderungan, sehingga kuasa untuk membedakan dan menghargai nilai perkara-perkara kekal, semuanya itu sudah dilemahkan.

Esau mempunyai keinginan yang kuat untuk memakan sejenis makanan tertentu. Sudah lama ia memuaskan diri sehingga dia tidak merasakan perlunya berbalik dari makanan yang penuh pencobaan dan rasa ingin itu. Dia memikirkannya, tetapi tidak berusaha untuk membatasi seleranya sampai kuasa selera itu menjatuhkan pertimbangan lain serta mengendalikan dia, dan dia membayangkan bahwa dia akan menderita serba kekurangan ataupun kematian jikalau dia tidak dapat memiliki makanan tersebut. Lebih banyak dia memikirkannya lebih kuat keinginannya sampai hak kesulungannya, yang kudus itu, kehilangan nilai dan kesuciannya.

Orang Israel Menggandrungi Makanan Daging
Ketika Allah Israel membawa umat Nya keluar dari Mesir, Dia menjauhkan makanan daging dari mereka pada umumnya, tetapi Dia memberikan roti dari surga, dan air dari celah batu kepada mereka. Orang Israel tidak merasa puas dengan ini. Mereka membenci makanan yang diberikan kepada mereka, mereka rindu pulang ke Mesir di mana mereka dapat menikmati makanan daging. Mereka memilih lebih baik menjadi hamba untuk menginginkan kematian daripada tidak makan daging. Allah meluluskan keinginan mereka lalu memberikan makanan daging. Allah membiarkan mereka memakan daging itu sampai kegelojohan membawa bala yang membunuh banyak di antara mereka.

Semuanya Ini Menjadi Contoh
Banyak contoh dapat diberikan untuk menunjukkan akibat penyerahan diri kepada selera. Nampaknya hal ini menjadi persoalan kecil bagi nenek moyang kita yang pertama untuk melanggar perintah Allah dengan tindakan yang satu itu yaitu memakan buah pohon yang begitu indah dipandang mata dan begitu menggiurkan selera, tetapi tindakan itu sudah mematahkan penurutan mereka kepada Allah dan membuka gerbang banjir kesalahan dan petaka yang telah menghanyutkan dunia ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *