Bahaya Kemerosotan Rohani

Bahaya Kemerosotan Rohani

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (I Korintus 15:33). 





AkhirZaman.org: Bahaya kemerosotan rohani.  Suatu kisah mengenai sebuah kapal megah yang sedang berlayar menyeberangi laut. Ketika pada tengah malam, dengan suatu benturan yang parah, kapal ini menghantam sebuah batu karang;

dosa yang di anggap sepele

Para penumpang terbangun melihat dengan ngeri kondisi mereka yang tanpa harapan, bersama dengan kapal yang mereka tumpangi itu, yang akan tenggelam serta tidak timbul lagi.

Nahkoda yang bertugas di kemudi telah salah menginterpretasikan mercusuar, sehingga ratusan jiwa orang yang hanya mendengar suatu amaran singkat tidak mempersiapkan diri sehingga kehilangan keselamatan mereka.

Kelalaian nahkoda kapal yang kurang waspada serta menganggap sepele situasi bukti suatu bahaya kemerosotan ahklak yang membahayakan tidak hanya keselamatannya pribadi namun merugikan keselamatan orang lain.

Jika seorang hamba Tuhan memberikan suatu fase karakter yang salah dalam menyatakan Kristus, maka dosa yang dianggap sepele ini akan memberikan suatu terang yang palsu.

Dan tentunya Jiwa-jiwa manusia pastilah akan tersesat dan tak berpengharapan oleh bahaya kemerosotan teladan yang tidak benar itu. 

Kemerosotan dalam Persekutuan duniawi

Banyak Orang-orang Kristen yang menghubungkan diri mereka dalam suatu Persekutuan-persekutuan duniawi sedang mencederai diri mereka dan menyesatkan Orang-orang lain juga.

Pada kesempatan lainnya mereka yang takut akan Allah hendaknya tidak memilih pergaulan pada orang yang tidak berTuhan sebagai Teman-teman merek; serta menjauhkan diri mereka sendiri menjadi terancam.

Dalam persekutuan duniawi perhimpunan-perhimpunan ini mereka dituntun ke bawah pengaruh Prinsip-prinsip dan Kebiasaan-kebiasaan dunia,

tidak lapar dan haus akan kebenaran

Serta melalui kuasa persekutuan dan kebiasaan ini, maka pemikiran menjadi semakin terbentuk kepada standar duniawi.

Kasih umat manusia kepada Allah menjadi dingin, dan mereka tidak memiliki lagi keinginan untuk mendengar amaran peringatan dari Tuhan, mengenai bahayanya kehidupan duniawi sehingga banyak umat manusia menjadi buta secara rohani.

Bagi umat percaya yang tidak bisa melihat perbedaan yang khusus antara melanggar hukum Allah dengan Orang-orang yang takut akan Allah serta memelihara Perintah Allah.

Sebaliknya mereka menyebut yang jahat itu adalah baik, dan yang baik itu adalah jahat. Kecemerlangan kebenaran yang berdasarkan Kenyataan-kenyataan abadi menjadi memudar karena kemerosotan rohani ini sungguh membahayakan.

Kemerosotan menghalangi pandangan pada kebenaran

Kebenaran dapat saja telah diperdengarkan serta disampaikan kepada setiap telinga bahkan dalam suatu cara yang pernah demikian memaksa, namun mereka tidak lapar akan roti hidup, atau haus akan air keselamatan hatinya tetap dikeraskan.

Akibatnya umat manusia hanya dapat meminum dari wadah yang rusak yang tidak bisa menampung air. lni adalah hal yang mudah ditemukan dalam suatu persekutuan dengan dunia. 

Bahwa persekutuan dengan dunia ini telah menangkap roh kemauan mereka, sehingga mata kerohanian mereka terhalang oleh pandangan-pandangan terhadap perkara-perkara kebenaran, akhirnya luput pula betapa besar harga pengorbanan Kristus dan kebenaran-Nya.

Dan persis pada tingkat dimana roh kejahatan dunia berkuasa tinggal di hati manusia, itu akan mengendalikan perangai kehidupan manusia di zaman akhir ini seperti kemerosotan umat manusia pada zaman Nuh. 

Saat manusia tidak berada di bawah kendali firman dan Roh Allah, maka manusia adalah Budak-budak Setan, dan Anda tidak pernah tahu seberapa jauh setan mengendalikan umat manusia dalam dosa. 

Bapa Yakub melihat Orang-orang yang berfoya-foya dalam kejahatan. la melihat apa yang akan menjadi akibat persekutuan dengan mereka, dan dalam Roh ia berseru…

Janganlah kiranya jiwaku turut dalam permufakatan mereka, janganlah kiranya rohku bersatu dengan perkumpulan mereka… (Kejadian 49:6).

Yakub mengangkat sinyal bahaya, untuk mengamarkan setiap jiwa terhadap Persekutuan-persekutuan yang membahayakan seperti ini.

(SM 128, 129)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *